Telat Bicara

Telat Bicara

Speech Delay

Naura (nama disamarkan) sudah berusia hampir 18 bulan, namun dia telat bicara belum bisa mengucapkan “mama”, “papa”. Terkadang, dia hanya mengeluarkan serangkaian suara-suara tanpa arti. Dia lebih sering menunjuk dengan jari jika menginginkan mainan atau sesuatu yang lainnya. Orang tua Naura merasa sangat cemas, namun mereka yakin bahwa Naura bisa mendengarkan mereka karena Naura menoleh jika dipanggil namanya. Mereka akhirnya membawa Naura ke dokter. Ternyata setelah dilakukan berbagai pemeriksaan, dokter mendiagnosa Naura sebagai terlambat bicara, dan menyarankan terapi untuk Naura. Akhirnya, setelah menjalani terapi yang rutin, pada usia 2 tahun Naura bisa mengucapkan “papa”, “mama”. Dia juga bisa mengucapkan “mau makan”, “susu”, “main”. Dan semenjak itu Naura aktif bercerita. Beruntung Naura dapat dideteksi dan diberikan penanganan sejak dini untuk keterlambatan bicaranya.

 

Kisah telat bicara di atas seperti yang dialami oleh Naura ternyata cukup sering dialami juga oleh banyak anak usia prasekolah. Penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan bicara di alami sekitar 5-8% anak usia prasekolah. Hal ini tentu membuat orangtua menjadi cemas. Apa sajakah penyebab keterlambatan bicara pada anak? Mari simak pembahasan berikut ini.

Telat bicara pada anak dapat disebabkan oleh:

  1. Gangguan Pendengaran

telat bicara

Sumber : healthnavigator.org.nz

Anak yang sering menderita batuk, pilek dan infeksi telinga tengah yang berulang, sering menunjukkan keterlambatan bicara. Anak dengan gangguan tuli juga bisa mengalami keterlambatan bicara. Untuk memastikan hal ini, sebaiknya orangtua membawa anak ke dokter spesialis THT agar bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanut. Dokter THT mungkin akan menyarankan pemeriksaan pendengaran anak dengan tes dengar BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) atau tes lainnya.

  1. Gangguan Otak

telat bicara

Sumber: istockphoto.com

Gangguan otak seperti palsi serebral, retardasi mental, dan gangguan Bahasa spesifik reseptif dan/atau ekspresif juga dapat menyebabkan keterlambatan bicara. Konsultasikanlah hal ini dengan dokter anak Anda apakah anak mengalami hal ini.

  1. Autisme

telat bicara

sumber: depositphotos.com

Autisme memang tidak selalu disertai dengan keterlambatan bicara, begitupun sebaliknya. Terlambat bicara tidak selalu karena autism. Ada banyak  hal yang bisa menyebabkan autism. Misalnya genetik, keracunan logam berat, virus, alergi, paparan zat-zat kimia, dan masih banyak lagi. Hal ini tentunya memerlukan perhatian dan pemeriksaan khusus dengan dokter ahli di bidang autisme. Selain itujuga memerlukan terapi-terapi pendukung lainnya. Misalnya terapi wicara, terapi sensori integrasi, terapi perilaku, terapi biomedis, terapi okupasi, dan lain sebagainya.

  1. Gangguan pada Organ Mulut

telat bicara

Sumber : istockphoto.com

Tak jarang anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara memiliki gangguan pada organ mulut dan rahang. Lidah dan bibir mereka seringkali kaku dan sulit bergerak secara leluasa sehingga mereka kesulitan untuk mengucapkan kata-kata. Anak menjadi sering mengeluarkan air liur (mengeces) dan memainkan angannya ke mulut. Untuk mengatasi anak ini, biasanya anak perlu dibantu dengan terapi wicara. Itu berfungsi untuk melemaskan dan melatih otot-otot rahang, mulut dan lidah mereka. Sehingga dia bisa mengucapkan kata-kata, serta menambah pembendaharaan kata mereka.

Orang tua dan lingkungan terdekat memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan kemampuan bicara dan berbahasa anak. Beberapa ahli berpendapat, fenomena milenial yang terjadi saat ini, anak sering pasif dan tidak berbicara karena anak kurang diberikan stimulus.  Baik stimulus oleh orangtua maupun lingkungannya. Misalnya, anak sudah diperkenalkan pada gadget (HP, tablet) sejak dini. Sehingga interaksi sosial dan komunikasi anak sangat terbatas. Oleh sebab itu, para ahli psikologi anak menyarankan agar orangtua tidak segera memberikan gadget pada anak-anaknya di usia dini. Hal itu berguna untuk memaksimalkan kemampuan bicara dan interaksi sosial. Kalaupun terpaksa diberikan, gadget diberikan hanya dalam waktu yang singkat saja dan tidak terus-menerus, dengan memberlakukan screen time.

Dengan meminimalisir penggunaan gawai ini, orang tua dan pengasuh berkesempatan untuk berbicara secara aktif ke anak-anaknya. Hal itu  untuk memperkenalkan anak pada intonasi, nada bicara, arti kata-kata, serta ekspresi non-verbal dalam komunikasi sehari-hari. Anda dapat menggunakan ekspresi sederhana yang digunakan sehari-hari, misalnya “Ayo makan. Makan apa kita hari ini? Oh, kita makan ikan nila. Wah, enak!” saat Anda hendak memberi makan anak, atau misalnya  “Selamat pagi! Ayah mau berangkat kerja dulu ya. Dadahh sayang!” saat sang Ayah berangkat kerja,  dan masih banyak contoh lainnya  yang bisa Anda gunakan. Bersikaplah aktif mengajak anak berkomunikasi dua arah, meskipun anak tampak belum mengerti atau belum bisa membalas.

Orangtua dan pengasuh juga bisa membacakan buku cerita untuk anak-anak, guna menambah pembendaharaan kata-kata anak. Bayi dan anak kecil biasanya sangat tertarik dengan cerita yang bersajak, seperti dalam lagu-lagu anak-anak atau nursery rhymes. Gunakan buku-buku cerita dengan gambar-gambar yang menarik, dan ajaklah anak untuk menunjuk gambar dan menyebutkan nama benda yang ditunjuk. Buatlah membaca sebagai suatu kegiatan rutin yang menyenangkan bagi Anda dan anak Anda. Maksimalkan waktu tersebut untuk berinteraksi hangat dengan anak Anda. Semoga cara-cara ini dapat membantu Anda, dan untuk berkonsultasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di 021-88982888 atau 083899393345.

Oleh. Dr. Mariska K. Senjaya

Deteksi Autis Dotcom | Well Project Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *