Menyiasati Susah Makan Pada Anak Anak Autis

Menyiasati Susah Makan Pada Anak Anak Autis

PICKY EATING 

Susah makan atau picky eating sering dijumpai pada anak – anak, tak terkecuali pada anak – anak autis. Sebelumnya anak anda selalu makan dengan lahap, tidak pernah pilih – pilih makanan. Makan nasi mau, makan sayur mau, semua dihabiskan namun tiba – tiba sekarang ia tidak mau makan nasi. Dia hanya mau makan makanan tertentu saja misalnya hanya dengan abon. Biasanya makan tidak habis dan berlari bahkan menangis ketika disuapi makan.

Picky eating memang sering membuat orang tua cemas. Banyak orang tua yang menduga bahwa picky eating disebabkan karena anak cacingan, atau sudah bosan dengan makanan yang diberikan. Bagaimana dengan asupan zat gizi bagi anaknya? Apakah sudah cukup atau harus ditambah dengan asupan lainnya.

Kondisi – kondisi ini dihadapi oleh hampir semua orang tua. Semua itu tidak jauh berbeda pada anak – anak normal. Picky eating dapat dialami oleh anak autis yang sedang sakit dan berkurang nafsu makannya. Hal ini tergolong masih wajar, tetapi bagaimana dengan anak yang sehat namun tiba – tiba sulit makan? Pada anak – anak normal, hal ini biasanya dikaitkan dengan rasa bosan.

susah makan

Masalah picky eating pada anak – anak autis tidak bisa dianggap sepele. Banyak factor – factor penyebab lain yang bisa mendasari mengapa tiba – tiba anak autis kita tidak mau mengonsumsi “jenis makanan” tertentu. Hal itu tentunya akan memerlukan penanganan yang berbeda dengan pada anak normal. Factor – factor tersebut adalah :

  1. Gangguan sensorik mulut dan Oromotor

Anak – anak autis seringkali memiliki masalah sensori atau penginderaan, di dalam mulut, dan indra pengecapan (Lidah) mereka. Masalah ini menyebabkan mereka terlalu sensitif atau tidak sensitive sama sekali terhadap tekstur dan rasa makanan yang mereka makan. Hal ini tentunya membuat anak enggan untuk menghabiskan makanan mereka atau mencoba jenis makanan baru. Tidak jarang mereka juga memiliki gangguan pergerakan di otot – otot daerah persendian rahang dan pergerakan lidah. Dalam proses mengunyah dan menelan makanan, otot – otot rahang dan lidah kita perlu bergerak aktif. Terutama untuk mendorong makanan di dalam mulut. Hal itu dimaksudkan agar bisa dikunyah dengan baik dan ditelan. Diskusikan masalah ini dengan dokter dan terapis wicara anak anda.

  1. Masalah Gigi dan gusi

Tak jarang pula di jumpai anak – anak Autis yang memiliki masalah pada gigi dan gusi mereka. Seperti gigi berlubang ( Karies ), pertumbuhan gigi yang tidak teratur, atau gusi yang bengkak. Masalah ini umumnya disebabkan juga oleh masalah gangguan sensori mereka didaerah mulut. Sehingga mereka sering menolak untuk di sikat giginya oleh orang tua dan pengasuh. Masalah pada gigi dan gusi tersebut sangatlah mempengaruhi kemampuan mereka untuk makan. Pastikan untuk selalu menjaga kebersihan rongga mulut anak anda. Meskipun anak masih menolak untuk anda, meskipun anak masih menolak untuk sikat gigi. Anda bisa mengajari anak anda dengan pelan – pelan. Membiasakan memasukkan jari telunjuk anda yang sudah di bungkus kasa yang telah di basahi air hangat. Selanjutnya di usapkan perlahan di gigi, gusi dan lidah anak. Anda juga bisa meminta bantuan terapi wicara anak anda untuk mengajari anda cara membersihkan rongga mulut dan gigi anak anda.

  1. Masalah kesehatan lainnya, misalnya alergi makanan

Anak – anak autis seringkali memiliki beberapa gangguan kesehatan penyerta.  Seperti alergi makanan, gangguan hormonal, keracunan logam berat dan ketidak seimbangan Mikrobiota Usus. Alergi makanan kerap menimbulkan masalah di hamper 80% anak autis, dengan gejala – gejala yang sangat bervariasi dan sulit ditebak. Hal itu berbeda dengan gejala alergi pada umumnya. Alergi makanan pada anak autis bisa menimbulkan rasa tidak nyaman di perut. Seperti mual, muntah, stiming, gelisah, diare, perut kembung, sakit kepala, hand flapping, perubahan emosional drastis.  ( tiba – tiba tantrum, atau tiba – tiba sedih sekali hingga gangguan tidur ).

Untuk mengatasi hal ini, konsultasikanlah dengan dokter Biomedis. Dokter biasanya akan menganjurkan untuk tes alergi dan mengatur pola makan serta untuk test Alergi. Selain itu juga untuk mengatur supplemen yang di butuhkan untuk mengatasi masalah anak. Demikian penyebab dan cara – cara mengatasi Picky Eating pada anak autis. Untuk konsultasi lebih lanjut, silahkan ikuti Chanel Telegram kami

Oleh. Dr. Mariska K. Senjaya

Deteksi Autis Dotcom | Well Project Indonesia

Telat Bicara

Telat Bicara

Speech Delay

Naura (nama disamarkan) sudah berusia hampir 18 bulan, namun dia telat bicara belum bisa mengucapkan “mama”, “papa”. Terkadang, dia hanya mengeluarkan serangkaian suara-suara tanpa arti. Dia lebih sering menunjuk dengan jari jika menginginkan mainan atau sesuatu yang lainnya. Orang tua Naura merasa sangat cemas, namun mereka yakin bahwa Naura bisa mendengarkan mereka karena Naura menoleh jika dipanggil namanya. Mereka akhirnya membawa Naura ke dokter. Ternyata setelah dilakukan berbagai pemeriksaan, dokter mendiagnosa Naura sebagai terlambat bicara, dan menyarankan terapi untuk Naura. Akhirnya, setelah menjalani terapi yang rutin, pada usia 2 tahun Naura bisa mengucapkan “papa”, “mama”. Dia juga bisa mengucapkan “mau makan”, “susu”, “main”. Dan semenjak itu Naura aktif bercerita. Beruntung Naura dapat dideteksi dan diberikan penanganan sejak dini untuk keterlambatan bicaranya.

 

Kisah telat bicara di atas seperti yang dialami oleh Naura ternyata cukup sering dialami juga oleh banyak anak usia prasekolah. Penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan bicara di alami sekitar 5-8% anak usia prasekolah. Hal ini tentu membuat orangtua menjadi cemas. Apa sajakah penyebab keterlambatan bicara pada anak? Mari simak pembahasan berikut ini.

Telat bicara pada anak dapat disebabkan oleh:

  1. Gangguan Pendengaran

telat bicara

Sumber : healthnavigator.org.nz

Anak yang sering menderita batuk, pilek dan infeksi telinga tengah yang berulang, sering menunjukkan keterlambatan bicara. Anak dengan gangguan tuli juga bisa mengalami keterlambatan bicara. Untuk memastikan hal ini, sebaiknya orangtua membawa anak ke dokter spesialis THT agar bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanut. Dokter THT mungkin akan menyarankan pemeriksaan pendengaran anak dengan tes dengar BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) atau tes lainnya.

  1. Gangguan Otak

telat bicara

Sumber: istockphoto.com

Gangguan otak seperti palsi serebral, retardasi mental, dan gangguan Bahasa spesifik reseptif dan/atau ekspresif juga dapat menyebabkan keterlambatan bicara. Konsultasikanlah hal ini dengan dokter anak Anda apakah anak mengalami hal ini.

  1. Autisme

telat bicara

sumber: depositphotos.com

Autisme memang tidak selalu disertai dengan keterlambatan bicara, begitupun sebaliknya. Terlambat bicara tidak selalu karena autism. Ada banyak  hal yang bisa menyebabkan autism. Misalnya genetik, keracunan logam berat, virus, alergi, paparan zat-zat kimia, dan masih banyak lagi. Hal ini tentunya memerlukan perhatian dan pemeriksaan khusus dengan dokter ahli di bidang autisme. Selain itujuga memerlukan terapi-terapi pendukung lainnya. Misalnya terapi wicara, terapi sensori integrasi, terapi perilaku, terapi biomedis, terapi okupasi, dan lain sebagainya.

  1. Gangguan pada Organ Mulut

telat bicara

Sumber : istockphoto.com

Tak jarang anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara memiliki gangguan pada organ mulut dan rahang. Lidah dan bibir mereka seringkali kaku dan sulit bergerak secara leluasa sehingga mereka kesulitan untuk mengucapkan kata-kata. Anak menjadi sering mengeluarkan air liur (mengeces) dan memainkan angannya ke mulut. Untuk mengatasi anak ini, biasanya anak perlu dibantu dengan terapi wicara. Itu berfungsi untuk melemaskan dan melatih otot-otot rahang, mulut dan lidah mereka. Sehingga dia bisa mengucapkan kata-kata, serta menambah pembendaharaan kata mereka.

Orang tua dan lingkungan terdekat memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan kemampuan bicara dan berbahasa anak. Beberapa ahli berpendapat, fenomena milenial yang terjadi saat ini, anak sering pasif dan tidak berbicara karena anak kurang diberikan stimulus.  Baik stimulus oleh orangtua maupun lingkungannya. Misalnya, anak sudah diperkenalkan pada gadget (HP, tablet) sejak dini. Sehingga interaksi sosial dan komunikasi anak sangat terbatas. Oleh sebab itu, para ahli psikologi anak menyarankan agar orangtua tidak segera memberikan gadget pada anak-anaknya di usia dini. Hal itu berguna untuk memaksimalkan kemampuan bicara dan interaksi sosial. Kalaupun terpaksa diberikan, gadget diberikan hanya dalam waktu yang singkat saja dan tidak terus-menerus, dengan memberlakukan screen time.

Dengan meminimalisir penggunaan gawai ini, orang tua dan pengasuh berkesempatan untuk berbicara secara aktif ke anak-anaknya. Hal itu  untuk memperkenalkan anak pada intonasi, nada bicara, arti kata-kata, serta ekspresi non-verbal dalam komunikasi sehari-hari. Anda dapat menggunakan ekspresi sederhana yang digunakan sehari-hari, misalnya “Ayo makan. Makan apa kita hari ini? Oh, kita makan ikan nila. Wah, enak!” saat Anda hendak memberi makan anak, atau misalnya  “Selamat pagi! Ayah mau berangkat kerja dulu ya. Dadahh sayang!” saat sang Ayah berangkat kerja,  dan masih banyak contoh lainnya  yang bisa Anda gunakan. Bersikaplah aktif mengajak anak berkomunikasi dua arah, meskipun anak tampak belum mengerti atau belum bisa membalas.

Orangtua dan pengasuh juga bisa membacakan buku cerita untuk anak-anak, guna menambah pembendaharaan kata-kata anak. Bayi dan anak kecil biasanya sangat tertarik dengan cerita yang bersajak, seperti dalam lagu-lagu anak-anak atau nursery rhymes. Gunakan buku-buku cerita dengan gambar-gambar yang menarik, dan ajaklah anak untuk menunjuk gambar dan menyebutkan nama benda yang ditunjuk. Buatlah membaca sebagai suatu kegiatan rutin yang menyenangkan bagi Anda dan anak Anda. Maksimalkan waktu tersebut untuk berinteraksi hangat dengan anak Anda. Semoga cara-cara ini dapat membantu Anda, dan untuk berkonsultasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di 021-88982888 atau 083899393345.

Oleh. Dr. Mariska K. Senjaya

Deteksi Autis Dotcom | Well Project Indonesia

Autisme

Autisme

ANAK SAYA BELUM BISA BICARA.. APAKAH ANAK SAYA ITU AUTIS ?

Terlambat bicara pada anak seringkali menimbulkan kecemasan pada orangtua. Tak jarang, orang tua ketakutan apabila anaknya belum bicara berarti anaknya autis. Padahal,  seorang anak yang terlambat bicara belum tentu selalu autis. Terlambat bicara termasuk dalam salah satu gangguan perkembangan anak, khususnya di bagian berkomunikasi dan berbahasa. Keterlambatan bicara dan bahasa dialami oleh sekitar 5-8% anak usia prasekolah. Gangguan spektrum autisme atau dikenal sebagai autisme, berbeda dengan keterlambatan bicara (speech delay). Autisme meliputi banyak aspek lainnya selain kemampuan bicara, misalnya kemampuan persepsi, sensori, kognitif, bersosialisasi, perilaku dan masalah biomedis. Keterlambatan bicara dan autis sebaiknya dikenali orangtua sedini mungkin agar dapat dilakukan intervensi yang tepat untuk memaksimalkan kemampuan bicara anak.

Ada banyak penyebab seorang anak mengalami keterlambatan bicara. Seperti gangguan pendengaran, gangguan otak (misalnya seperti retardasi mental, palsi serebral / cerebral palsy). Autisme atau gangguan pada mulut yang menyebabkan anak kesulitan menglafalkan kata-kata (gangguan artikulasi). Untuk mengetahui diagnosis pasti penyebab keterlambatan bicara diperlukan pemeriksaan yang teliti oleh dokter ahli. Atau bisa juga oleh terapis wicara (speech pathologist) yang berpengalaman. Untuk lebih lengkapnya, bisa dibaca di artikel mengenai keterlambatan bicara.

dokter alergi

Sumber: sciencenordic.com

Autisme adalah gangguan perkembangan anak yang mempergaruhi persepsi dan kognitif anak tersebut dalam menanggapi lingkungan disekitarnya. Termasuk juga dalam kemampuannya berinteraksi dengan orang lain. Orang-orang autistik melihat, mendengar dan merespon dunia dengan cara yang berbeda dengan orang-orang lainnya. Karakteristik atau ciri-ciri orang autistik berbeda-beda antar individu dikarenakan oleh berbagai macam penyebab epigenetik dan biomedis yang berbeda-beda pula di dalam tubuh mereka.  Dari banyak penelitian yang telah dilakukan para ahli di bidang autisme selama berpuluh-puluh tahun di seluruh dunia, diambil kesimpulan umum bahwa rata-rata orang autistik memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial secara terus menerus. Mereka juga memiliki minat atau ketertarikan yang sangat terbatas terhadap suatu hal atau aktivitas tertentu, mempunyai perilaku aneh yang diulang-ulang, yang ditunjukkan mulai sejak masa balita, biasanya antara 0-3 tahun, dan kadang tetap dipertahankan hingga menginjak usia dewasa.

Anak autis umumnya kesulitan dalam memahami maksud bahasa lisan (verbal) dan bahasa tubuh (nonverbal) yang disampaikan orang lain. Mereka tidak selalu mengalami kesulitan berbicara, bahkan beberapa dari mereka memiliki kosakata atau pembendaharaan kata-kata yang sangat luas dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Namun ketika berinteraksi dengan orang lain, anak-anak ini kesulitan memahami maksud dari pembicaraan dengan orang lain, atau memahami ekspresi wajah, gurauan, intonasi, dan nada bicara lawan bicaranya, atau memahami maksud bahasa peribahasa atau gaya sarkasme. Ada juga beberapa anak autis yang memang kesulitan berkata-kata, hanya mengeluarkan suara-suara bergumam atau mengerang, atau cenderung hanya mengulang-ulang kata-kata tertentu saja, sehingga tidak bisa berkomunikasi dua arah dengan orang lain. Anak autis sulit memahami  emosi orang lain. Dalam situasi interaksi  sosial, mereka sering kali tampak tidak peka dengan lingkungannya, tidak mau bermain atau berbaur dengan anak-anak sebayanya, dan lebih senang menyendiri.

Dalam hal sensorik (kemampuan penginderaan), anak autis seringkali menjadi sangat sensitif atau malah sebaliknya kurang sensitif terhadap aneka suara, bau-bauan, tekstur, cahaya dan rasa nyeri. Bagi mereka, suatu bunyi atau suara yang dianggap pelan atau biasa saja oleh orang lain, bisa menjadi sangat berisik dan mengganggu mereka, sehingga seringkali berujung pada ledakan emosi (temper tantrum atau emotional meltdown). Mereka bisa saja tiba-tiba menangis, marah, kemudian memukuli diri mereka dan orang tuanya tanpa sebab ketika berada di suatu tempat yang mengganggu sensori mereka. Mereka juga sering menyakiti diri mereka sendiri ketika marah, misalnya memukul-mukul kepala, menggigit tangan mereka sendiri, atau membenturkan badan mereka karena kurang peka terhadap rasa nyeri.

Perkembangan anak adalah hal yang kompleks dan tidak sama antara satu anak dengan yang lainnya maka sebaiknya setiap anak memerlukan pemeriksaan atau screening tumbuh kembang secara teratur. Dari penelitian, orang tua anak autistik sering  melaporkan  bahwa anak-anak mereka memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang normal sampai di usia tertentu, namun tiba-tiba mengalami kemunduran. Untuk itulah, pemeriksaan tumbuh kembang anak harus dilakukan secara berkala dan teratur. Orang tua dan pengasuh ini dapat melakukan pemeriksaan sendiri secara sederhana di rumah, misalnya dengan mengenali pencapaian apa saja yang seharusnya sudah bisa dicapai anak. Dapatkan e-book gratis untuk mengetahui apakah anak anda autis dengan berlangganan pada newsletter kami.

Pemeriksaan tumbuh kembang anak yang lebih lengkap dapat dilakukan pada saat anak mendapatkan imunisasi di dokter, atau melalui kegiatan posyandu rutin bulanan. Orang tua dan lingkungan terdekat memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan bicara dan bahasa seorang anak secara umum, jika orangtua atau pengasuh mulai mendapati kemunduran pada perkembangan anak, sebaiknya anak segera dibawa  untuk diperiksa lebih lanjut secara lebih teliti dan mendapatkan bentuk intervensi yang tepat. Semoga hal ini dapat membantu.

Untuk konsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi 021-88982888, atau 083899393345.

Oleh. Dr. Mariska K. Senjaya

Deteksi Autis Dotcom | Well Project Indonesia